Archive for February, 2013

Family :)

Posted: February 21, 2013 in Uncategorized

Image

Saat menabrak seorang yang tak dikenal, “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.

Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.”
Orang yg tidak kenal saya, juga berlaku sangat sopan.

Pada hari itu juga, saat saya memasak makan malam, putraku berdiri diam-diam di samping saya.
Saat berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.
“Minggir,” kata saya dengan marah.
Ia pergi, hati kecilnya hancur.
Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika berbaring, nuraniku berkata, “Sewaktu berurusan dgn orang tidak dikenal, etika kesopanan kamu gunakan.
Tapi thd anak-anak, sepertinya kau perlakukan sewenang-wenang.”

Aku tersentak, merasa malu, dan air mataku mulai menetes.
Saya buka pintu kamarku.
Kudapati beberapa kuntum bunga mawar.
Bergegas aku ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?”

Ia tersenyum, “Aku memetik bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yg berwarna biru.”

Aku berkata, “Anakku, Ibu menyesal karena telah kasar padamu;
Ibu seharusnya tdk membentakmu tadi.”

Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”

Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yg biru.”

Apakah Anda menyadari bahwa jika kita meninggal besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka?

Jadi apakah Anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris,
KELUARGA = FAMILY.
F=Father ,
A=And
M=Mother,
I=I,
L=Love,
Y=You.:)

Advertisements

Kasih dan Ketaatan

Posted: February 20, 2013 in Renungan Harian, Uncategorized

Image

Antara kasih dan ketaatan dapat digambarkan seperti keping mata uang yang terdiri dari dua sisi yang berbeda, namun tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan. Jikalau ada kasih, namun tidak ada ketaatan, kasih itu mati. Demikian pula, bila ada ketaatan namun tidak ada kasih, ketaatan itu kosong. Tanpa kasih dan keadilan, hidup akan terasa hampa, bagaikan gong berkumandang dan canang yang gemerincing.

Pada perikop ini kita belajar bahwa mengasihi Yesus ada dua level proses yang harus kita lalui yaitu level motivasi dan aplikasi untuk memegang dan menuruti segala perintah Yesus. Upah dari mengasihi Yesus dengan cara yang benar adalah Yesus dan Bapa akan mengasihi kita dan akan berdiam di dalam kita. Jika Yesus dan Bapa datang dan diam di dalam kita, orang-orang di sekitar kita pasti akan menikmati kehadiran Tuhan di dalam segala keberadaan kita.

Dalam kehidupan bersatya wacana seringkali kita mengatakan mengasihi di mulut namun kita tidak memegang dan melakukan segala perintah Yesus. Terdapat banyak kebohongan dan kemunafikan bahwa seolah-olah kita menaati-Nya. Diperlukan konsistensi antara perkataan kasih dan ketaatan untuk memegang dan melakukan segala perintah-Nya ūüôā

Yohanes 14 : 23
‚ÄúJawab Yesus: ‚ÄúJika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia‚ÄĚ

Image

Beberapa hari yang lalu ketika saya sedang membaca artikel-artikel dalam suatu situs di internet, saya menemukan sebuah artikel yang menarik perhatian saya. Artikel ini menceritakan betapa tragisnya kematian seorang pria akibat kesepian yang berlarut-larut, dan itu memberikan kepada saya pelajaran hidup yang berharga.
Berikut artikelnya….
KOMPAS.com – Suatu pagi ketika visite, seorang pasien yang biasanya selalu saya lihat berbaring di tempat tidur dekat jendela ruang perawatan kelas tiga tidak ada lagi di sana. Agak curiga, “mana bapak itu?” Tanya saya kepada perawat yang mendampingi saya — pasien, seorang lelaki umur sekitar 60 tahun yang menjadi langganan ruang penyakit dalam¬† beberapa bulan terakhir.
 
“Beliau meninggal tadi malam dokter,” jawab perawat itu. “Lho, kok bisa?”, tanya saya lagi. “Tidak tahu juga pastinya dokter. Semalam waktu dari kamar mandi, pasien mengeluh sakit dada dan sesak nafas, cukup lama Ia mengalami itu, kami baru tahu setelah keluarga pasien sebelahnya memberitahu perawat jaga dok. Kemudian kami melapor ke dokter jaga, menurut dokter jaga kemungkinan alm meninggal karena serangan jantung. Sempat perawat jaga membawa ke ruang ICU, tetapi tidak berapa lama di ruang ICU beliau tidak tertolong lagi dokter,” ungkap perawat lain menerangkan.
 
Setelah selesai visite, di ruang perawat waktu mengisi status pasien, bayangan pasien itu seperti mengikuti saya, barangkali karena pasien ini sudah sering dan lama dirawat. Untuk yang terakhir ini saja telah lebih dari satu bulan. Pasien memang sudah berulang kali dirawat dengan keluhan hipertensi dan Insomnia. Biasanya, dalam 1-2 minggu setelah dirawat, hipertensinya mulai terkontrol dan insomnianya juga membaik. Bila keluar rumah sakit, pasien bukan kembali ke rumah, tetapi ke panti. Tidak berapa lama di panti biasanya masuk rumah sakit lagi dengan keluhan yang sama. Keadaan ini berulang dalam satu tahun terakhir sampai pasien meninggal.
 
Kemudian,  karena sedikit penasaran dengan kematiannya, apalagi secara emosional saya sudah merasa dekat dengan pasien, saya pelajari kembali statusnya. Dari data rekam medis pasien, terutama sebelum meninggal, gambaran rekam jantungnya memang sesuai dengan kematian akibat jantung. Tetapi ada yang menarik saya lihat dari catatan petugas gizi, dalam beberapa hari terakhir ternyata sebagian besar menu makanan yang diberikan kepada Alm tidak dimakannya.
 
Melihat ini, saya semakin curiga, jangan-jangan obat-obatan juga tidak dimakan pula.¬† Lalu,¬† kepada perawat saya tanyakan, “bagaimana obat-obatan yang diberikan kepadanya, apa ada dimakan?” ” Nggak tahu juga dokter. Seperti biasa, obat kami bagikan dan diambil lagi kalau kotak obat itu sudah kosong, kelihatannya dimakan dok,”¬† perawat itu mencoba menerangkan.
 
“Coba kamu lihat lagi laci pasien,! “saya¬† curiga obat-obat itu tidak dimakannya. Tidak berapa lama, perawat itu kembali dengan satu kantong plastik dengan obat-obatan di dalamnya. Melihat itu…….. “Hmmmm, pasien ini meninggal bukan karena serangan jantung, tetapi karena kesepian,”¬† saya bicara sendiri. Mendengar komentar saya begitu, “kok bisa dokter?” Kata perawat itu lagi. Sebelum saya menjawab, “tapi benar juga dokter, kami lihat bapak itu akhir-akhir ini lain sekali. Beliau seperti tidak bersemangat, sering melamun, pernah kami melihat Ia menangis sesunggukan, dan bila malam kelihatannya tidak bisa tidur, sering beliau minta tambahan obat tidur dokter.¬† Lalu, dokter, kami tidak pernah melihat keluarganya mengunjungi beliau selama dirawat dokter,”¬† cerita sang perawat.
 
Hmmm, ya, saya juga melihat begitu. Suatu¬† waktu¬† saat visite, saya tanyakan mengenai keluarganya, agak lama dan setelah menarik nafas yang dalam, baru ia menjawab; “ada dokter”……, kemudian ia diam lagi,…dan air matanya tampak bergolak. Dan pernah saya lihat pada jam kunjungan pasien, saat pasien lain mendapat perhatian dari keluarganya, Alm menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tetapi perasaan saya waktu itu mengatkan, beliau bukan tidur, barangkali menangis menahan kepedihan yang dirasakannya karena¬† berharap kunjungan anak-istri, keluarga atau saudara-saudaranya.
 
Lalu, melihat apa yang terjadi pada pasien itu, walaupun serangan jantung dikatakan sebagai penyebab kematiaannya, tetapi di balik serangan jantung yang membunuhnya itu, kesepian, perasaan sendiri, kehilangan cinta-kasih sayang, hubungan-hubungan yang toksis yang dialaminya inilah sebenarnya menurut saya sebagai pencetus penting kematiaanya.
 
Seperti diketahui, bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri. Orang sakit, seperti pasien di atas sebetulnya sangat membutuhkan dukungan-dukungan baik emosioanal, moral, sosial, dan fisik terutama dari keluarga terdekatnya. Cinta, kasih sayang, empati  yang diberikan kepada mereka pasti akan berpengaruh terhadap perjalanan, prognosis penyakitya, bahkan harapan hidupnya.
 

Bagaimana menurut anda?
Hidup hanya sekali, jangan biarkan kesepian dan masalah membuat hidup anda berakhir sia-sia. Andalkan Tuhan di dalam hidup ini, karena Ia berjanji akan selalu ada bersama kita.
Tuhan Yesus memberkati !