Kata Penghormatan di Pemakaman Ayahku – The Eulogy I Gave For My Dad

Posted: March 2, 2012 in Renungan Harian

Kata Penghormatan di Pemakaman Ayahku
Hari ini adalah ulang tahun kelima atas wafatnya ayahku. Pada waktu itu ayah sedang duduk di taman di rumahnya, dengan seekor anak kucing agak baru di dekatnya dan sekantung makanan anjing. Ia tinggal di dekat salah satu Finger Lakes di barat New York. Pada saat itu, saudara-saudariku tinggal berjarak 30 menit dari rumah ayah.

Pada hari itu aku sedang berada di Kota New York, menghadiri pertemuan group fokus bagi pekerjaanku – ketika aku menerima panggilan handphone panik dari kakakku. Kakak sedang menuju ke rumah ayah untuk mengajaknya makan malam. Kak Matt menemukan ayah jatuh pingsan keluar dari kursinya. Kak Matt mulai memberikan pernafasan buatan bagi ayah, sementara istrinya menelpon 911 – panggilan emergensi.

Setelah menerima telpon dari kakak, aku segera meninggalkan acara group fokus untuk mengejar pesawat paling awal. Ketika aku memasuki airport dan siap-siap menaiki pesawat, Matt menelponku lagi untuk mengabarkan bahwa ayah telah meninggal.

Saat itu sungguh terasa seperti mimpi, setelah hubungan telpon selesai, dan mendengar suara dan kesibukan orang-orang yang melanjutkan kehidupan mereka, sementara kehidupanku terasa berhenti mendadak pada ketika itu. Ketika aku tiba di Rochester, keempat saudara-saudariku dan aku mulai menyiapkan proses pemakaman dan acara kedukaan – hal-hal seperti pengurusan jenazah, acara pemakaman, dan penulisan kabar kematian dan biografi ayah.

Ada daftar kegiatan yang perlu diperiksa satu persatu. Salah satu tugas yang harus dikerjakan adalah menulis kata sambutan bagi pemakaman ayah. Telah disetujui bahwa aku akan membacakan kata sambutan tersebut untuk mengenang jasa dan menghormati ayahku.

Di bawah ini aku tuliskan eulogi atau kata-kata penghormatan yang aku bagikan di acara pemakaman ayah – aku bagikan ini dengan harapan dapat menolong seseorang yang mungkin melewati pengalaman yang sama.

=======================================================================

Rasanya seperti bermimpi dan tidak nyata ketika kami harus kehilangan kedua orang tua dalam rentang waktu yang cukup pendek – dua tahun lebih sedikit.

Aku pergi ke gereja dan duduk bersebelahan dengan ayah pada hari Minggu lalu dan tidak pernah menduga akan ditelpon pada hari berikutnya yang mengabarkan bahwa ayah telah wafat.

Aku tidak menduga kalau kedua orangtua kami tidak akan hidup terus untuk melihat pernikahan 12 cucu mereka. Aku tidak menduga kalau mereka tidak akan melihat kelahiran cicit-cicit mereka. Dan tentu saja aku tidak menduga kalau mereka tidak akan mencapai usia 65 tahun.

Sampai hari Senin lalu ketika ayah meninggal, aku masih menduga dapat hidup bersama ayah selama 15 atau 25 tahun yang menyenangkan lagi.

Namun paling tidak aku punya dugaan yang membuat damai di pikiran dan hati terdalam bahwa aku tahu bahwa ayah dan ibu sudah dipersatukan bersama.

Sejak ibu meninggal pada tahun 2004, ayah mulai tidak bahagia. Saudara-saudariku dan aku sendiri telah berusaha memberikan lebih banyak waktu bersama ayah. Saudara-saudari kami juga sering mengajak ayah untuk makan, minum kopi, memperbaiki rumah ayah, mengajak ayah jalan-jalan atau bepergian mengelilingi danau untuk membangkitkan semangatnya – namun tidak terlalu berhasil.

Pada suatu titik, aku begitu frustrasi atas kemurungan ayah sehingga aku secara egoistis dan marah menegur ayah agar keluar dari kemurungannya dan bangkit melanjutkan kehidupannya. Aku juga bertanya kepada ayah, apakah keluarga besar yang masih hidup tidak cukup baginya?

Dengan pelan ayah menjawab bahwa ia sangat mengisihi setiap orang di antara kami semua. Namun ayah juga menceritakan bahwa semua perhatian dan upaya yang ekstra dari kami semua terhadap ayah, menjadi sesuatu yang pahit-pahit manis karena Gwen (ibuku) tidak ada lagi di sana untuk berbagi bersama ayah.

Dengan pelan ayah menceritakan lebih lanjut bahwa tidak peduli betapa dalam kami mengasihi ayah dan menghabiskan waktu bersama ayah – setiap kami akhirnya harus meninggalkan ayah setiap hari untuk kembali pada keluarga dan rumah kami masing-masing. Nampaknya dengan ditinggalkannya ayah setiap hari, hal itu tanpa sadar menambah kepedihan hati ditinggal ibu.

Itulah pendalaman yang tak terduga dan mendukakan bagiku. Tanpa memperkecil hal itu, kehilangan ibu bagi ayah dapat diibaratkan dengan seorang pelukis yang kehilangan penglihatannya, seperti seorang musisi yang kehilangan pendengarannya atau seperti seorang koki yang kehilangan daya kecapnya.

Setiap hal yang suka dikerjakan dan dialami setiap orang dalam kehidupan ini dipengaruhi dan berubah, karena titik kontak yang menolong memberi arti pada setiap waktu sudah tidak ada bersama mereka lagi. Ibuku adalah titik kontak bagi ayah.

Ayahku mengasihi kami kelima orang anaknya dan sangat mengasihi cucu-cucunya – tetapi sekarang aku tahu bahwa ia sedih karena tidak lagi dapat membagikan saat-saat indah itu bersama ibuku.

Percayalah pada apa yang kukatakan, aku kehilangan kedua orang tuaku – tetapi seperti aku katakan, aku tak menduga bahwa sekarang aku punya damai sejahtera walaupun kehilangan mereka, yaitu mereka kini dapat bersatu di alam kekekalan.

Beberapa anak mendapatkan dari ayah mereka kesukaan akan main baseball dan mereka dapat mengingat angka-angka statistik kemenangan setiap pemain setiap hari. Beberapa anak mengembangkan kesukaan untuk berburu dan memancing yang akan bertahan seumur hidup. Beberapa yang lain punya hobby terhadap mobil dan bekerja bersama ayah mereka untuk memperbaiki mesin mobil klasik.

Walaupun ayahku tidak punya kesukaan akan baseball, berburu atau terhadap mobil – namun ia memiliki gairah menyala-nyala yang ia teruskan padaku, yaitu kegairahan akan Firman Tuhan dan akan iman yang kekal dalam Kristus.

Setiap hari aku bersyukur atas karunia iman yang ayah turunkan bagiku, khususnya untuk hari seperti hari ini.

Pada awal minggu ini, istriku menemukan email dari seorang wanita yang datang beribadah di gereja kami, dan pada akhir email tersebut ada kata-kata kutipan yang aku ingin bagikan, bunyinya:

”Ukuran paling tepat untuk menilai kekayaan seseorang adalah apa yang ia investasikan di dalam kekekalan.”

Kutipan tadi terngiang-ngiang di pikiranku, karena itulah standard yang dapat diukurkan kepada ayahku. Setiap orang yang sungguh-sungguh mengenal ayahku akan setuju atas standard kekekalan itu – ia adalah salah seorang terkaya yang aku kenal, dan itu dibuktikan dengan jumlah orang pada hari ini yang datang menghormati kenangan indah bersama ayah.

Ayahku selalu siap mendengarkan, selalu mendoakan dan menyampaikan kata-kata hikmat dari Alkitab kepada siapa saja yang mencari pertolongannya.

Selama masa penghiburan tadi malam, aku tak dapat memberi tahu berapa banyak orang – beberapa diantaranya adalah teman-teman keluarga kami, banyak lainnya yang belum kami kenal – yang datang melayat dan memberitahuku bahwa ayah adalah ”figur bapak” bagi mereka ketika mereka tidak mempunyai ayah lagi; atau ayah memainkan peranan penting dan memberikan dampak bagi kehidupan mereka; atau betapa iman ayah dan keluarga kami telah menjadi inspirasi bagi mereka.

”Ukuran paling tepat untuk menilai kekayaan seseorang adalah apa yang ia investasikan di dalam kekekalan.”

Setelah mengatakan semuanya itu – setelah kehilangan kedua orang tuaku begitu berdekatan waktunya padahal mereka seharusnya bisa hidup berpuluh-puluh tahun lagi – sangatlah mudah bagiku untuk memprotes ke sorga dan menganggap kepergian kedua orang tua kami sebagai sesuatu yang tidak adil atau bahkan suatu lelucon alam semesta yang kejam.

Reaksi yang spontan adalah menuntut jawaban kepada Tuhan atas pertanyaan – ”Mengapa?”:
• Mengapa kedua orangtuaku pergi?
• Mengapa aku harus meneruskan kehidupan tanpa mereka?
• Mengapa pasangan saling mengasihi yang sudah mendemonstrasikan iman harus meninggal pada usia begitu muda?
• Mengapa orang tua kami yang meninggal?

Semua pertanyaan ”mengapa” dan banyak pertanyaan lain datang memenuhi pikiranku ketika aku mendengar kabar kematian ayahku – karena aku mengasihi ayah sebesar aku mengasihi ibu.

Yang menariknya, pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” itu terjadi, mengingatkan aku pada sebuah bacaan yang aku temukan pada buku berjudul ”Penelaahan atas Kedukaan”.

Setelah ibu meninggal, aku memberikan buku itu kepada ayah. Buku itu ditulis oleh C.S Lewis – orang yang semula sangat atheis yang kemudian menjadi salah seorang penulis Kristen dan ahli teologi terbesar di abad ke-20.

Lewis menulis buku itu segera setelah kematian istrinya, Joy Davidson, karena kanker. Sejujurnya, aku tidak mengetahui pasti apakah ayah membaca buku yang kuberikan itu – namun aku ingin membacakan sedikit dari buku itu bagi anda tentang pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” yang kami alami ketika kami kehilangan orang-orang yang kami kasihi:

Ketika aku menyodorkan pertanyaan-pertanyaan [mengapa] di hadapan Tuhan, aku tidak mendapatkan jawabannya. Malahan sepertinya aku mendapatkan jawaban ”Tidak”. Aku tidak berhadapan dengan pintu yang tertutup. Tetapi agaknya aku mendapati tatapan yang diam seribu basa, bukannya tanpa belas kasih. Sepertinya Tuhan menggelengkan kepalanya – bukan menolak menjawab namun mengabaikan pertanyaan itu. Jawabannya seperti: ”Tenanglah, anak-Ku, engkau tidak mengerti.”

Bolehkah makhluk fana mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap Tuhan tidak perlu dijawab? Ya, boleh saja karena semua pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal merupakan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Pertanyaan-pertanyaan seperti: ”apakah kuning itu kotak atau bundar? Atau, ”ada berapa jam dalam satu mil?” tidak bisa dijawab. Mungkin saja setengah dari pertanyaan-pertanyaan kita – setengah dari masalah-masalah yang berkaitan dengan teologi dan metafisika – merupakan pertanyaan-pertanyaan tanpa makna. ”

Apa yang dijelaskan bagian buku di atas adalah bahwa semua pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” tentang suatu tragedi merupakan jenis pertanyaan yang keliru.

Setelah acara ibadah penghiburan tadi malam – mengingat ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang dijamah hidupnya oleh dampak positif kehadiran ayah – aku jadi berpikir tentang pertanyaan yang tepat atau benar yang harus aku tanyakan. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk akal bagi Tuhan dan sehingga Ia ingin menjawab pertanyaan itu bagiku mengenai kematian orang tua kami.

Setelah antrian panjang orang-orang yang datang tadi malam pada acara ibadah penghiburan dengan membawa kisah demi kisah tentang bagaimana ayah memberi dampak positif bagi kehidupan orang-orang itu – maka muncullah pertanyaan di hatiku, ”Bagaimana aku bisa lebih menjadi seperti ayahku?”

Dan jawaban dari Tuhan datang ke dalam hatiku secepat pertanyaannya, yaitu: ”Ukuran paling tepat untuk menilai kekayaan seseorang adalah apa yang ia investasikan dalam kekekalan.”

Terlepas dari kepedihan, kehilangan, kedukaan – aku mendapatkan jawaban dari sorga yang memberikanku damai sejahtera sejati di dalam hati terdalam. Aku memiliki jawaban dan tuntunan, bahwa aku perlu melanjutkan kehidupan ini dan imanku sampai aku mencapai garis akhir dan menyelesaikan kehidupanku dengan baik – tepat seperti yang telah dilakukan ayahku.

Aku akan terus mengejar warisan kekal yang sejati yang diberikan ayah dan berusaha memberi pengaruh positif terhadap kehidupan yang aku jumpai – tepat seperti yang dilakukan ayah dan terus dilakukan ayah hingga akhir hayatnya.

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” dan ada pertanyaan yang lebih baik untuk ditanyakan ketika kita berhadapan dengan tragedi, aku bertanya apakah anda kaya dalam kebenaran, berlimpah dalam iman dan memiliki investasi yang banyak dalam kekekalan? Di seberang tirai kematian, apakah anda tahu bahwa anda telah menyelesaikan kehidupan dengan baik?

Jika anda mengarahkan kehidupan anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, anda akan mendapati kehidupan yang layak dan penuh arti.

Ditulis oleh Tor Constantino, ex journalist of CBS and ABC, best selling author, bloger, speaker. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s